Senin, 05 Desember 2011

GEOLOGI REGIONAL DAERAH SEMARANG


          Lokasi studi secara alluviumative mencakup wilayah Kotamadya Semarang, Propinsi Jawa Tengah. Secara geografis terletak pada koordinat 110º16’20’’ – 110 º 30’29’’ Bujur Timur dan 6 º 55’34’’ – 7º 07’04’’ Lintang Selatan dengan luas daerah sekitar 391,2 Km2
          Wilayah Kotamadya Semarang sebagaimana daerah lainnya di Indonesia beriklim tropis, terdiri dari musim kemarau dan musim hujan silih berganti sepanjang tahun. Besarnya rata-rata jumlah curah hujan tahunan wilayah Semarang utara 2000 – 2500 mm/tahun dan Semarang bagian selatan antara 2500 – 3000 mm/tahun. Sedangkan curah hujan rata-rata per bulan berdasarkan data dari tahun 1994 – 1998 berkisar antara 58 – 338 mm/bulan, curah hujan tertinggi di daerah pemetaan terjadi pada bulan Oktober sampai bulan April dengan curah hujan antara 176-338 mm/bulan, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Mei sampai bulan September dengan curah hujan antara 58 – 131 mm/bulan.

2.1    Morfologi daerah
Morfologi daerah studi berdasarkan pada bentuk topografi dan kemiringan lerengnya dapat dibagi menjadi 7 (tujuh) satuan morfologi yaitu:
2.1.1    Dataran
Merupakan daerah dataran lluvium pantai dan sungai dan setempat di bagian baratdaya merupakan punggungan lereng perbukitan, bentuk lereng umumnya datar hingga sangat landai dengan kemiringan lereng medan antara 0 – 5% (0-3%), ketinggian tempat di baruan utara antara 0 – 25 m dpl dan di baguan baratdaya ketinggiannya antara 225 – 275 m dpl. Luas penyebaran sekitar 164,9 km2 (42,36%) dari seluruh daerah studi.
2.1.2    Daerah bergelombang
Satuan morfologi ini umumnya merupakan punggungan, kaki bukit dan lembah sungai, mempunyai bentuk permukaan bergelombang halus dengan kemiringan lereng medan 5 – 10% (3-9%), ketinggian tempat antara 25 – 200 m dpl. Luas penyebarannya sekitar 68,09 km2. (17,36%) dari seluruh daerah studi.

2.1.3    Pebukitan berlereng landai
Satuan morfologi ini merupakan kaki dan punggungan perbukitan, mempunyai bentuk permukaan bergelombang landai dengan kemiringan lereng 10 – 15 % dengan ketinggian wilayah 25 – 435 m dpl. Luas penyebaran sekitar 73,31 km2 (18,84%) dari seluruh daerah pemetaan.

2.1.4    Pebukitan belereng Agak Terjal
Satuan morfologi ini merupakan lereng dan puncak perbukitan dengan lereng yang agak terjal, mempunyai kemiringan lereng antara 15 – 30%, ketinggian tempat antara 25 – 445 m dpl. Luas penyebarannya sekitar 57,91Km2 (14,8%) dari seluruh daerah studi.

2.1.5    Perbukitan Berlereng Terjal
Satuan morfologi ini merupakan lereng dan puncak perbukitan dengan lereng yang terjal, mempunyai kemiringan lereng antara 30 – 50%, ketinggian tempat antara 40 – 325 m dpl. Luas penyebarannya sekitar 17,47 Km2 (4,47%) dari seluruh daerah studi.

2.1.6    Perbukitan Berlereng Sangat Terjal
Satuan morfologi ini merupakan lereng bukit dan tebing sungai dengan lereng yang sangat terjal, mempunyai kemiringan lereng antara 50 – 70%, ketinggian tempat antara 45 – 165 m dpl. Luas penyebarannya sekitar 2,26 Km2 (0,58%) dari seluruh daerah studi.

2.1.7    Perbukitan Berlereng Curam
Satuan morfologi ini umumnya merupakan tebing sungai dengan lereng yang curam, mempunyai kemiringan >70%, ketinggian tempat antara 100 – 300 m dpl. Luas penyebarannya sekitar 6,45 Km2 (1,65%) dari seluruh daerah studi.

2.2     Tata guna lahan
Penggunaan lahan di wilayah Kotamadya Semarang terdiri dari wilayah terbangun (Build Up Area) yang terdiri dari pemukiman, perkantoran perdagangan dan jasa, kawasan industri, transportasi. Sedangkan wilayah tak terbangun terdiri dari tambak, pertanian, dan kawasan perkebunan dan konservasi.

2.3     Susunan statigrafi
                  Geologi Kota Semarang berdasarkan Peta Geologi Lembar Magelang –             Semarang (RE. Thaden, dkk; 1996), susunan stratigrafinya adalah sebagai     berikut:
          2.3.1    Aluvium
Merupakan endapan aluvium pantai, sungai dan danau. Endapan pantai litologinya terdiri dari lempung, lanau dan pasir dan campuran diantaranya mencapai ketebalan 50 m atau lebih. Endapan sungai dan danau terdiri dari kerikil, kerakal, pasir dan lanau dengan tebal 1 – 3 m. Bongkah tersusun andesit, batu lempung dan sedikit batu pasir.
2.3.2    Batuan Gunungapi Gajahmungkur
Batuannya berupa lava andesit, berwarna abu-abu kehitaman, berbutir halus, holokristalin, komposisi terdiri dari felspar, hornblende dan augit, bersifat keras dan kompak. Setempat memperlihatkan struktur kekar berlembar (sheeting joint).
2.3.3    Batuan Gunungapi Kaligesik
Batuannya berupa lava basalt, berwarna abu-abu kehitaman, halus, komposisi mineral terdiri dari felspar, olivin dan augit, sangat keras.
2.3.4    Formasi Jongkong
Breksi andesit hornblende augit dan aliran lava, sebelumnya disebut batuan gunungapi Ungaran Lama. Breksi andesit berwarna coklat kehitaman, komponen berukuran 1 – 50 cm, menyudut – membundar tanggung dengan masa dasar tufaan, posositas sedang, kompak dan keras. Aliran lava berwarna abu-abu tua, berbutir halus, setempat memperlihatkan struktur vesikuler (berongga).
2.3.5    Formasi Damar
Batuannya terdiri dari batupasir tufaan, konglomerat, dan breksi volkanik. Batupasir tufaan berwarna kuning kecoklatan berbutir halus – kasar, komposisi terdiri dari mineral mafik, felspar, dan kuarsa dengan masa dasar tufaan, porositas sedang, keras. Konglomerat berwarna kuning kecoklatan hingga kehitaman, komponen terdiri dari andesit, basalt, batuapung, berukuran 0,5 – 5 cm, membundar tanggung hingga membundar baik, agak rapuh. Breksi volkanik mungkin diendapkan sebagai lahar, berwarna abu-abu kehitaman, komponen terdiri dari andesit dan basalt, berukuran 1 – 20 cm, menyudut – membundar tanggung, agak keras.
2.3.6    Formasi Kaligetas
Batuannya terdiri dari breksi dan lahar dengan sisipan lava dan tuf halus sampai kasar, setempat di bagian bawahnya ditemukan batu lempung mengandung moluska dan batu pasir tufaan. Breksi dan lahar berwarna coklat kehitaman, dengan komponen berupa andesit, basalt, batuapung dengan masa dasar tufa, komponen umumnya menyudut – menyudut tanggung, porositas sedang hingga tinggi, breksi bersifat keras dan kompak, sedangkan lahar agak rapuh. Lava berwarna hitam kelabu, keras dan kompak. Tufa berwarna kuning keputihan, halus – kasar, porositas tinggi, getas. Batu lempung, berwarna hijau, porositas rendah, agak keras dalam keadaan kering dan mudah hancur dalam keadaan basah. Batupasir tufaan, coklat kekuningan, halus – sedang, porositas sedang, agak keras.
2.3.7    Formasi Kalibeng
Batuannya terdiri dari napal, batupasir tufaan dan batu gamping. Napal berwarna abu-abu kehijauan hingga kehitaman, komposisi terdiri dari mineral lempung dan semen karbonat, porositas rendah hingga kedap air, agak keras dalam keadaan kering dan mudah hancur dalam keadaan basah. Pada napal ini setempat mengandung karbon (bahan organik). Batupasir tufaan kuning kehitaman, halus – kasar, porositas sedang, agak keras, Batu gamping merupakan lensa dalam napal, berwarna putih kelabu, keras dan kompak.
2.3.8    Formasi Kerek
Perselingan batu lempung, napal, batu pasir tufaan, konglomerat, breksi volkanik dan batu gamping. Batu lempung kelabu muda – tua, gampingan, sebagian bersisipan dengan batu lanau atau batu pasir, mengandung fosil foram, moluska dan koral-koral koloni. Lapisan tipis konglomerat terdapat dalam batu lempung di K. Kripik dan di dalam batupasir. Batu gamping umumnya berlapis, kristallin dan pasiran, mempunyai ketebalan total lebih dari 400 m.


2.4     Struktur geologi
Struktur geologi yang terdapat di daerah studi umumnya berupa sesar yang terdiri dari sesar normal, sesar geser dan sesar naik. Sesar normal relatif berarah barat – timur sebagian agak cembung ke arah utara, sesar geser berarah utara selatan hingga barat laut – tenggara, sedangkan sesar normal relatif berarah barat – timur. Sesar-sesar tersebut umumnya terjadi pada batuan Formasi Kerek, Formasi Kalibening dan Formasi Damar yang berumur kuarter dan tersier.

2.5     Gerakan tanah
Dari hasil analisis kemantapan lereng diketahui bahwa tanah pelapukan batu lempung mempunyai sudut lereng kritis paling kecil yaitu 14,85%. pelapukan napal sudut lereng kritisnya adalah 19,5% , Pelapukan batu pasir tufaan mempunyai sudut lereng kritis 20,8% dan pelapukan breksi sudut lereng kritisnya 23,5%.
Berdasarkan analisis di atas maka daerah Kotamadya Semarang dapat dibagi menjadi 4 zona kerentanan gerakan tanah, yaitu Zona Kerentanan Gerakan Tanah sangat Rendah, Rendah, Menengah dan Tinggi.
2.5.1    Zona Kerentanan Gerakan Tanah Sangat Rendah
Daerah ini mempunyai tingkat kerentanan sangat rendah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini sangat jarang atau tidak pernah terjadi gerakan tanah, baik gerakan tanah lama maupun gerakan tanah baru, terkecuali pada daerah tidak luas di sekitar tebing sungai.
Merupakan daerah datar sampai landai dengan kemiringan lereng alam kurang dari 15 % dan lereng tidak dibentuk oleh endapan gerakan tanah, bahan timbunan atau lempung yang bersifat mengembang. Lereng umumnya dibentuk oleh endapan aluvium, batu pasir tufaan, breksi volkanik, dan lava andesit.
Daerah yang termasuk zona kerentanan gerakan tanah sangat rendah sebagian besar meliputi bagian utara Kodya Semarang, mulai dari Mangkang, kota semarang, Gayamsari, Pedurungan, Plamongan, Gendang, Kedungwinong, Pengkol, Kaligetas, Banyumanik, Tembalang, Kondri dan Pesantren, dengan luas sekitar 222,8 Km2 (57,15%) dari seluruh daerah studi.
2.5.2    Zona Kerentanan Gerakan Tanah Rendah
Daerah yang mempunyai tingkat kerentanan rendah untuk terjadi gerakan tanah. Umumnya pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah jika tidak mengalami gangguan pada lereng dan jika terdapat gerakan tanah lama, lereng telah mantap kembali. Gerakan tanah berdimensi kecil mungkin dapat terjadi, terutama pada tebing lembah (alur) sungai.
Kisaran kemiringan lereng mulai dari landai (5 – 5%) sampai sangat terjal (50 – 70%). Tergantung pada kondisi sifat fisik dan keteknikan batuan dan tanah pembentuk lereng. Pada lereng terjal umumnya dibentuk oleh tanah pelapukan yang cukup tipis dan vegetasi penutup baik cukup tipis dan vegetasi penutup baik, umumnya berupa hutan atau perkebunan.
Lereng pada umumnya dibentuk oleh breksi volkanik, batu pasir tufaan, breksi andesit dan lava.
Daerah yang termasuk zona ini antara lain Jludang, Salamkerep, Wonosari, Ngaliyan, Karangjangkang, Candisari, Ketileng, Dadapan, G. Gajahmungkur, Mangunsari, Prebalan, Ngrambe, dan Mijen dengan luas penyebaran 77,00 km2 (19,88%) dari luas daerah studi.
2.5.3    Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah
Daerah yang mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan yang tinggi.
Kisaran kemiringan lereng mulai dari landai (5 – 15%) sampai sangat terjal (50 – 70%). Tergantung pada kondisi sifat fisik dan keteknikan batuan dan tanah sebagai material pembentuk lereng. Umumnya lereng mempunyai vegetasi penutup kurang.
Lereng pada umumnya dibentuk oleh batuan napal, perselingan batu lempung dan napal, batu pasir tufaan, breksi volkanik, lava dan lahar.
Penyebaran zona ini meliputi daerah sekitar Tambakaji, Bringin, Duwet, Kedungbatu, G. Makandowo, Banteng, Sambiroto, G. Tugel, Deli, Damplak, Kemalon, Sadeng, Kalialang, Ngemplak dan Srindingan dengan luas sekitar 64,8 Km2 (16,76%) dari seluruh daerah studi.
2.5.4    Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi
Daerah yang mempunyai tingkat kerentanan tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini sering terjadi gerakan tanah, sedangkan gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak akibat curah hujan tinggi dan erosi yang kuat.
Kisaran kemiringan lereng mulai landai (5 – 15%) sampai curam (>70%). Tergantung pada kondisi sifat fisik dan keteknikan batuan dan tanah. Vegetasi penutup lereng umumnya sangat kurang.
Lereng pada umumnya dibentuk oleh batuan napal (Tmkl), perselingan batu lempung dan napal, batu pasir tufaan dan breksi volkanik.
Daerah yang termasuk zona ini antara lain: Pucung, Jokoprono, Talunkacang, Mambankerep, G. Krincing, Kuwasen, G. Bubak, Banaran, Asinan, Tebing Kali Garang dan Kali Kripik bagian tengah dan selatan, Tegalklampis, G. Gombel, Metaseh, Salakan dan Sidoro dengan luas penyebaran sekitar 23,6 km2 (6,21%) dari seluruh daerah studi.

Kamis, 29 September 2011

Sifat Fisik Mineral


1. Warna (Colour)
Bila suatu permukaan mineral dikenal suatu cahaya, maka cahaya yang mengenai permukaan mineral tersebut sebagian akan diserap (absorbsi) dan sebagian dipantulkan (refleksi). Warna penting untuk membedakan antara mineral akibat pengotoran dan warna asli (tetap) yang berasal dari elemen utama pada mineral tersebut.
Warna mineral yang tetap dan tertentu karena elemen-elemen utama pada mineral disebut dengan nama Idiochromatic.
                        Misal : Sulfur berwarna kuning, Pyrite berwarna kuning loyang, Magnetite berwarna hitam
Warna akibat adanya campuran atau pengotor dengan unsur lain, sehngga memberikan warna yang berubah-ubah tergantung dari pengotornya, disebut dengan nama Allochromatic.
Misal  :  Halite, warna dapat berubah-ubah :
·         abu-abu
·         biru bervariasi
·         kuning
·         coklat gelap
·         merah muda
Kuarsa tak berwarna, tetapi karena ada campuran/pengotoran, warna berubah-ubah menjadi :
·         violet
·         merah muda
·         coklat-hitam
Kehadiran kelompok ion asing yang dapat memberikan warna tertentu pada mineral disebut nama Chromophores.
Misal : Ion-ion Cu yang terkena proses hidrasi merupakan Chromophores dalam mieral Cu sekunder ,maka akan memberikan warna hijau dan biru.
Faktor yang dapat mempengaruhi warna :
a.       Komposisi kimia
b.      Struktur kristal dan ikatan atom
c.       Pengotoran dari mineral
2. Perawakan Kristal (Crystal Habit)
Perawakan kristal (crystal habit), bentuk khas mineral ditentukan oleh bidang yang membangunnya, termasuk bentuk dan ukuran relatif bidang-bidang tersebut. Kita perlu mengenal beberapa perawakan kristal yang terdapat pada jenis mineral tertentu, sehingga perawakan kristal dapat dipakai untuk penentuan jenis mineral, walaupun perawakan kristal bukan merupakan ciri tetap mineral.
Contoh :
·         Mika selalu menunjukkan perawakan kristal yang mendaun (foliated)
·         Amphibol selalu menunjukan perawakan kristal meniang (columnar)
Perawakan kristal dibedakan menjadi 3 golongan (Richard Pearl,1975) yaitu ;
A.    Elongated habits (mniang / berserabut )
B.     Flattened habits (lembaran tipis)
C.     Rounded habits (membutir)
a.      Elongated Habits
1.   Meniang ( Columnar )
     Contoh : - Tourmaline
2.Menyerat ( Fibrous )
     Contoh : - Asbestos
3.Menjarum ( Acicular )
Contoh : - Natrolite
4.Menjaring ( Reticulate )
Contoh : - Rulite
5.Merabut ( Capillery )
Contoh : Cuprite
6.Membintang ( Stellated )
Contoh : - Pirofilit
7.Membenang ( Filliform )
Contoh : - Silver
8.Mondok ( Stound,tubby,Equant )
Contoh : - Zircon
9.Menjari ( Radiated )
Contoh : - Markasit
b.      Flattened Habits
1.   Membilah ( Bladed )
                        Contoh : - Kyanite
-    Kalaverit
2.   Memapan ( Tabular )
     Contoh : - Barite
                    - Hypersthene
3.Membata ( Blocky )
Contoh : - Microcline
                     - Calcite
4.Mendaun ( Foliated )
Contoh : - Mika
-    Chlorite
5.Memencar ( Divergen )
Contoh : - Aragonite
6.Membulu ( Plumose )
Contoh : - Mika
c.       Rounded Habits
1.   Mendada  ( Mamillary )
     Contoh : - Malachite
                    - Opal
2.   Membulat jari ( Co;;oform radial )
     Contoh : - Pyrolorhyte
3.   Mengginjal ( Rentiform )
     Contoh : - Hematite
4.   Membulat ( Colloform )
     Contoh : Glsuconite
5.   Membutir ( Granular )
     Contoh : - Olivine
6.   Stalaktit (Stalactic )
     Contoh : - Goethite
7.   Memisolit ( Pisolitic)
     Contoh : - Gibbsite
                   - Pisolitic
3. Kilap (Luster)
Kilap ditimbulkan oleh cahaya yang dipantulkan dari permukaan  sebuah mineral, yang erat hubungannya dengan sifat pemantulan (refleksi) dan  pembiasan (refraksi). Intensitas kilap tergantung dari indeks bias dari mineral, yang apabila makin besar indeks bias mineral, makin besar pula jumlah cahaya yang dipantulkan. Nilai ekonomik mineral kadang-kadang ditentukan oleh kilapnya.
Macam-macam kilap :
a.      Kilap Logam ( Metallic Luster )
Mineral-mineral opaq yang mempunyai indeks bias sama dengan 3 atau lebih, contoh : Galena, Native metal, Sulphide , Pyrite.
b.      Kilap Sub-metalik ( Sub Metallic Luster )
Terdapat pada mineral yang mempunyai  indeks bias antara 2,6 sampai 3, contoh : 
 - Cuprite         ( n = 2.85 )
                                              - Cinnabar      ( n = 2.90 )
                                              - Hematite      ( n = 3.00 )
                                              - Alabandite   ( n = 2.70 )
c.  Kilap Bukan Logam ( Non Metallic Luster )
      Mineral-mineral yang mempunyai warna terang dan dapat membiaskan,dengan indeks bias kuramg dari 2,5. Gores dari mineral-mineral ini biasanya tak berwarna atau berwarna muda.
Macam-macam kilap bukan logam :
·         Kilap kaca ( vitreous Luster )
Kilap yang ditimbulkan oleh permukaan kaca atau gelas.
Contoh :      
        - Quatrz            - Carbonates    - Sulphates
               - Spinel            - Silicates         - Fluoriote
               - Garnet           - Leucite          - COrondum
·         Kilap Intan ( adamantite Luster )
      KIlap yang sangat cemerlang yang ditimbulkan oleh intan atau permata.
      Contoh :       - Diamond                   - Sphalerite
                           - Cassiterite                 - Zircon
                           - Sulfur                        - Rutile
·         KIlap lemak ( greasy luster )
      Kilap dengan permukaan yang licin seperti berminyak atau kena lemak, akibat proses oksidasi.
Contoh :       - Nepheline yang sudah teralterasi .
                           - Halite yang sudah terkena udara.
·         Kilap lilin ( waxy luster )
      Merupakan kilap separti lilin yang khas.
      Contoh :       - Serphentine
                          - Ceragyrite
·         Kilap sutera ( silky luster )
Kilap seperti yangt terdapat pada mineral-mineral yang parallel atau berserabut ( parallel fibrous structure )
Contoh :       - Asbestos                                           - Serpentine
                         - Selenite (variasi Gypsum)                   - Hematite
·         Kilap mutiara ( pearly luster )
      Kilap yang ditimbulkan oleh mineral transparan yang berbentuk lembaran dan menyerupai mutiara.
      Contoh :    - Talc
                        - Gypsum
                         - Mika
·         Kilap tanah ( earthy luster )
      Kilap yang ditunjukkan oleh mineral yang porous dan sinar yang masuk tidak dipantulkan kembali.
      Contoh :       - Kaolin                       - Diatomea
                           - Montmorilonite         - Pyrolusite
                           - Chalk                        - Variasi Ochres
4. Kekerasan ( Hardness )
Kekerasan mineral pada umumnya diartikan sebagai daya tahan mineral terhadap goresan (scratching). Penentuan kekerasan relative mineral ialah dengan jalan menggoreskan permukaan mineral yang rata pada mineral standar dari skala Mohs yang sudah diketahui kekerasannya.
Skala kekerasan relative mineral dari Mohs :
1.   Talc                          Mg3Si4O10(OH)2
2.   Gypsum                    CaSO22H2O
3.   Calcite                      CaCO3
4.   Fluorite                     CaF2
5.   Apatite                     Ca5(PO4)3F
6.   Orthoclas                  K(AlSi3O8)
7.   Quartz                      SiO2
8.   Topaz                       Al2SiO4(FOH)2
9.   Corondum                Al2O3
                 10.   Diamond                    C
Misal suatu mineral di gores dengan kalsit (H = 3) ternyata mineral itu tidak tergores, tetapi dapat tergores oleh Fluorite (H = 4), maka mineral tersebut mempunyai kekerasan antara 3 dan 4. Dapat pula penentuan kekerasan relativ mineral dengan mempergunakan alat-alat sederhana yang sering terdapat di sekitar kita. Misalnya :
      - Kuku jari manusia              H = 2,5
      - Kawat tembaga                  H = 3
      - Pecahan kaca                     H = 5,5
      - Pisau baja                           H = 5,5
      - Kikir baja                           H = 6,5
      - Lempeng baja                    H = 7
Bila mana suatu mineral tidak tergores oleh kuku jari manusia tetapi oleh kawat tembaga, maka mineral tersebut mempunyai kekerasan antara 2,5 dan 3.
5. Gores/Cerat ( Streak )
Gores merupakan warna asli dari mineral apabila mineral tersebut ditumbuk sampai halus. Gores ini dapat lebih dipertanggungjawabkan karena stabil dan penting untuk membedakan 2 mineral yang warnanya sama tetapi goresnya berbeda. Gores ini diperoleh dengan cara menggorekan mineral pada permukaan keping porselin, tetapi apabila mineral mempunyai kekerasan lebih dari 6, maka dapat dicari dengan cara menumbuk sampai halus menjadi berupa tepung.
Mineral yang berwarna terang biasanya mempunyai gores berwarna putih.
Contoh :       - Quartz           = putih / tak berwarna
                     - Gypsum        = putih / tak berwarna
                     - Calcite           = tak berwarna
Mineral bukan logam ( non metalic mineral ) dan berwarna gelap akan memberikan gores yang lebh terang daripada warna mineralnya sendiri.
Contoh :       - Leucite          = warna abu-abu / gores hitam.
           - Dolomite        = warna kuning sampai merah jambu /
                                       gores putih
Mineral yang mempunyai kilap metallic kadang-kadang mempunyai warna gores yang lebih gelap dari warna mineralnya sendiri.
Contoh :       - Pyrite            = warna kuning loyang / gores hitam
            - Copper          = warna merah tembaga / gores hitam
            - Hematite       = warna abu-abu kehitaman / gores
                                       merah
Pada beberapa mineral, warna dan gores sering menunjukkan warna yang sama.
Contoh :       - Cinnabar       = warna dan gores merah
            - Magnetite      = warna dan gores hitam
            - Azurite          = warna dan gores biru
6. Belahan ( Cleavage )
Apabila suatu mineral mendapat tekanan yang melampaui batas elastisitas dan plastisitasnya, maka pada akhirnya mineral akan pecah. Belahan mineral akan selalu sejajar dengan bidang permukaan kristal yang rata karena belahan merupakan gambaran dari struktur dalam dari kristal. Belahan tersebut akan menghasilkan kristal menjadi bagian-bagian yang kecil, yang setiap bagian kristal dibatasi oleh bidang yang rata. Berdasarkan dari bagus atau tidaknya permukaan bidang belahannya, belahan dapat dibagi menjadi :
a.      Sempurna ( Perfect )
Yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui arah belahannya yang merupakan bidang yang rata dan sukar pecah selain melalui bidang belahannya.
Contoh :  - Calcite
                        - Muscovite
                        - Galena
                        - Halite
b.  Baik ( Good )
Yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui bidang belahannya yang rata, tetapi dapat juga terbelah tidak melalui bidang belahannya .
Contoh :  - Feldspar
   - Hyperstene
                        - Diopsite
                        - Augite
                        - Rhodonite
c.  Jelas ( Distinct )
Yaitu apabila bidang belahan mineral dapat terlihat jelas, tetapi mineral tersebut sukar membelah melalui bidang belahannya dan tidak rata.
      Contoh :  - Staurolite
                        - Scapolite
                        - Hornblende
                        - Anglesite
                        - Feldspar
                        - Scheelite
d.  Tidak Jelas ( Indistinct )
Yaitu apabila arah belahan mineral masih terlihat, tetapi kemungkinan untuk membentuk belahan dan pecahan sama besar.
      Contoh :   - Beryl
                        - Corundum 
                  - Platina
   - Gold          
     - Magnetite
e.  Tidak sempurna ( Imperfect )
Yaitu apabila mineral sudah tidak terlihat arah belahannya, dan mineral akan pecah dengan permukaan yang tidak rata.
      Contoh :   - Apatite
                         - Cassiterite
                         - Native sulphur


7. Pecahan ( Fracture )
Apabila suatu mineral mendapatkan tekanan yang melampaui batas plastisitas dan elastisitasnya, maka mineral tersebut akan pecah.
Pecahan dapat dibagi :
·         Choncoidal : Pecahan mineral yang menyerupai pecahan botol atau kulit bawang yang memperlihatkan gelombang melengkung dipermukaan.
      Contoh :- Quatrz            - Obsidian
                     - Cerrusite       - Rutile
                     - Anglesite       - Zincite
·         Hacly : Pecahan mineral seperti pecahan runcing-runcing tajam, serta kasar tak beraturan atau seperti tak bergerigi.
      Contoh :- Copper
                     - Pltinum
                     - Silver
                     - Gold
·         Even  : Pecahan mineral dengan permukaan bidang pecah kecil-kecil dengan ujung pecahan mendekati bidang datar.

      Contoh :- Muscovite
                     - Talc
                     - Biotite
·         Uneven : Pecahan mineral yang menunjukan permukaan bidang pecahnya kasar dan tidak teratur. kebanyakan mineral   mempunyai pecahan uneven.
Contoh :- Calcite
- Marcasite
- Choromite
- Orthoclas
- Rutile
- Rhodonite
·         Splintery : Pecahan mineral yang hancur menjadi kecil-kecil dan tajam  menyerupai benang atau berserabut
Contoh :- Fluorite
                     - Anhydrite
                     - Antigoite
·         Earthy  : Pecahan mineral yang hancur seperti tanah.
      Contoh :- Kaolin
                     - Biotite
                     - Muscovite
                     - Talc
8. Daya Tahan Terhadap Pukulan ( Tenacity )
Tenacity adalah suatu daya tahan mineral terhadap pemecahan, pembengkokan, penghancuran, dan pemotongan.
Macam-macam tenacity :
Ø  Brittle : Apabila mineral mudah hancur menjadi tepung halus
      Contoh :- Calcite
                     - Quartz
                     - Marcasite
                     - Hematite
Ø  Sectile : Apabila mineral mudah terpotong pisau dengan tidak berkurang menjadi tepung.
      Contoh :- Gypsum
                     - Ceragyrite
Ø  Malleable : Apabila mineral ditempa dengan palu akan menjadi pipih.
      Contoh :- Gold
                     - Copper
Ø  Ductile   : Dapat di tarik / diulur seperti kawat. Apabila mineral ditarik dapat bertambah panjang dan aopabila dilepaskan maka  mineral akan kembali seperti semula.
      Contoh :- Silve               - Cerrargyrite
- Copper          - Olivine
Ø  Flexible : Apabila mineral dapat dilengkungkan kemana-mana dengan   mudah.
      Contoh :- Talc                - Mika
                     - Gypsum       
Ø  Elastic : Dapat merenggang bila ditarik dan kembali seperti semula   bila dilepaskan.
      Contoh :- Muscovite
-   Hematite tipis
9. Berat Jenis ( Specific Gravity )
Banyak mineral-mineral yang mempunyai sifat fisis yang banyak persamaannya, dapat dibedakan dari berat jenisnya. Seperti pada colestite SrSO4 dengan berat jenis 3,95 dapat dengan mudah dibedakan dengan barit yang mempunyai berat jenis 4,5 salah satu penentuan berat jenis dengan teliti dapat menggunakan pycnometer.
Berat jenis adalah angka perbandingan antara berat suatu mineral di bandingkan dengan berat air pada volume yang sama.
                                   
10. Rasa & Bau ( Taste & Odour )
Disamping dari sifat-sifat yang sudah dibahas diatas, beberapa mineral mempunyai rasa dan bau.
Rasa ( taste ) hanya dipunyai oleh mineral-mineral yang bersifat cair :
1.            Astringet                      : rasa yang umum dimiliki oleh sejenis
                                               logam
2.            Sweetist Astinget          : rasa seperti pada tawas
3.            Saline                          : rasa yang dimiliki seperti garam
4.            Alkaline                       : rasa yang dimiliki seperti rasa soda
5.            Bitter                           : rasa seperti garam pahit
6.            Cooling                       : rasa seperti rasa sendawa
7.            Sour                             : rasa seperti asam belerang
Melalui gesekan dan penghilangan dari beberapa zat yang bersifat volatile melalui pemanasan atau melalui penambahan suatu asam, maka kadang-kadang bau ( odour ) akan menjadi ciri-ciri yang khas dari suatu mineral.
1.            Alliaceous                    : Bau seperti bawang, proses pereaksi dati aersenopirit akan menimbulkan bau yang khas
2.            Horse Radish Odour   : Bau dari lobak kuda yang menjadi busuk ( biji selenit yang dipanasi )
3.            Sulphurous                  : Bau yang ditimbulkan oleh proses pereaksian pirit atau pemanasan mineral yang mengandung unsure sulfide.
4.            Bituminous                  : Bau seperti bau aspal
5.            Fetid                            : Bau yang ditimbulkan oleh asam sulfide atau bau busuk seperti telur busuk
6.    Argiilaceous                    : Bau seperti lempung basah, seperti serpentin yang mengalami pemanasan, bau kalau pyrargillite
kadang raba ( feel ) merupakan karakter yang penting. Ada beberapa macam raba, misalnya : smooth ( sepioloite ), greasy ( talc )

11. Sifat Kemagnetan
Pada acara praktikum mineral fisik ini adalah sifat dari mineral yang diselidiki apakah paramagnetit ( magnetit ) ataukah diamagnetit (non magnetit ).
§    Paramagnetit (magnetit) adalah mineral tersebut   mempunyai gaya tarik terhadap magnet.
§    Diamagnetit (non magnetit) adalah mineral tersebut mempunyai gaya tolak terhadap magnet.
12. Derajat ketransparanan
Sifat transparan dari suatu mineral tergantung kepada kemampuan mineral tersebut men-transmit sinar cahaya ( berkas sinar ). Sesuai dengan itu, variasi jenis mineral dapat dibedakan atas :
§  Opaque mineral : Mineral yang tidak tembus cahaya meskipun dalam bentuk helaian yang amat tipis. Mineral-mineral ini permukaannya mempunyai kilauan metalik dan meninggalkan berkas hitam atau gelap (logam-logam mulia,belerang,ferric oksida )
§  Transparant mineral : Mineral-mineral yang tembus pandang seperti kaca biasa ( batu-batu kristal dan ieland spar )
§  Translusent mineral : mineral yang tembus cahaya tetapi tidak tembus pandang seperti kaca frosted ( Calsedon, Gypsum, dan kadang-kadang Opal ).
Mineral-mineral yang tidak tembus pandang (non transparent) dalam bentuk pecahan-pecahan (fragmen) tetapi tembus cahaya pada lapisan yang tipis (feldspar)